Beranda > Gelombang > Jaringan gelombang radio dan serat optik.

Jaringan gelombang radio dan serat optik.

 

jaringan gelombang radio dan serat optik.

 

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Telepon selular atau yang lebih lazim disebut Handphone sudah menjadi barang sekunder bagi masyarakat Indonesia. Setiap lapisan masyarakat di Indonesia mempunyai handphone. Teknologi seluler membagi sebuah kota menjadi sel-sel kecil dengan luas wilayah tertentu. Sistem ini memungkinkan frekuensi yang luas digunakan berkali-kali di seantero kota, sehingga memungkinkan jutaan orang dapat menggunakan telepon sel-sel yang disebut sebagai “Seluler” itu secara bersamaan.
Setiap sel memiliki sebuah Base Transmission Station ( BTS ), yang terdiri dari sebuah menara dan sebuah bangunan berisi perlengkapan pemancaran dan penerimaan sinyal telepon. BTS inilah yang akan melayani setiap panggilan telepon selular, menerima sinyal, mengolah, dan kemudian menghubungkan ke nomor yang dituju. Sementara itu, penggunaan handphone tidak lepas dari adanya operator handphone. Di Indonesia telah ada lebih dari lima operator GSM dan lebih dari 2 operator CDMA. Semakin banyak operator ponsel maka semakin banyak pula menara jaringan radio didirikan . Dibeberapa kota salah satunya Jakarta telah banyak keluhan dari masyarakat akan banyaknya menara BTS (Base Transceiver Station) ini.

Di Jakarta saja ada 2500 menara BTS jaringan radio. Bayangkan dalam satu radius yang tak sampai 50 meter berdiri dua bahkan 4 menara dari operator berbeda. Selain merusak estetika hal ini juga mengakibatkan penghamburan sumber daya, padahal dunia sedang mengalami pemanasan global dan krisis energi. Jika hal ini terus terjadi negara kita ini akan berubah menjadi hutan menara karena banyaknya menara yang berdiri di nusantara, yaitu sebanyak 45000 lebih menara dari berbagai operator. Selain itu pembangunan menara ini juga menimbulkan masalah sosial di masyarakat, terutama yang pemukimannya berdekatan dengan menara tersebut. Mulai dari ketidaknyamanan yang ditimbulkan dengan adanya menara BTS, seperti gangguan kesehatan, gangguan pada sistem perangkat elektronik akibat interfensi gelombang frekuensi radio, atau gangguan saat pembangunan menara berlangsung.

Penggunaan serat optik sangat membantu Indonesia keluar dalam masalah dampak dari penggunaan menara BTS yang berlebihan ini. Keunggulan serat optik terutama karena lebar spektrum informasi yang dapat dikirimkan dalam orde ratusan MHz bahkan beberapa Giga Hertz. Disamping itu, serat optik lebih tahan terhadap gangguan gelombang elektromagnetik dan mempunyai diameter yang sangat kecil dibandingkan dengan kabel tembaga. . Saat ini, beberapa perusahaan terutama dari Jepang, Amerika dan Eropa telah memasarkan sistem komunikasi serat optik dengan lebar spektrum informasi dalam orde ratusan juta bit tiap detik. Selain itu serat optik tidak akan mengganggu estetika karena BTS serat optik hanya ditempelkan di tiang listrik atau ditanam di tanah dengan menggunakan jaringan pipa bawah tanah.

1.2 Pembatasan Masalah
Masalah pada karya tulis ini dibatasi pada jaringan gelombang radio dan serat optik.

1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana dampak penggunaan menara BTS yang berlebihan di lingkungan masyarakat?
Apakah penggunaan jaringan radio masih layak digunakan?
apakah serat optik dapat menjadi faktor penyelamat dalam sistem komunikasi di Indonesia dan dapat mengurangi global warming
Bagaimana dampak penggunaan serat optik di Indonesia?

1.4 Tujuan
Mengetahui dampak penggunaan menara BTS yang berlebihan di lingkungan masyarakat.
Mengetahui apakah penggunaan jaringan radio masih layak digunakan
Mencari solusi untuk mengurangi dampak global warming dengan menggunakan metode aplikasi fisika-gelombang
Mengetahui dampak penggunaan serat optik di Indonesia
 

1.5 Manfaat
Mengurangi dampak pemanasan global
Mengurangi penggunaan energi yang berlebihan sehingga tidak terjadi penghambur hamburan energi
Memberi inovasi baru kepada tekhnologi telekomunikasi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gelombang Radio
Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentuk ketika objek bermuatan listrik dimodulasi (dinaikkan frekuensinya) pada frekuensi yang terdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF) dalam suatu spektrum elektromagnetik. Gelombang radio ini berada pada jangkauan frekuensi 10 hertz (Hz) sampai beberapa gigahertz (GHz), dan radiasi elektromagnetiknya bergerak dengan cara osilasi elektrik maupun magnetik.
Gelombang elektromagnetik lainnya, yang memiliki frekuensi di atas gelombang radio meliputi sinar gamma, sinar-X, inframerah, ultraviolet, dan cahaya terlihat.
Ketika gelombang radio dipancarkan melalui kabel, osilasi dari medan listrik dan magnetik tersebut dinyatakan dalam bentuk arus bolak-balik dan voltase di dalam kabel. Hal ini kemudian dapat diubah menjadi signal audio atau lainnya yang membawa informasi

2.2 Serat Optik
Serat optik adalah sebuah kaca murni yang panjang dan tipis serta berdiameter sebesar rambut manusia. Dalam penggunaannya beberapa serat optik dijadikan satu dalam sebuah tempat yang dinamakan kabel optik dan digunakan untuk mengantarkan data digital yang berupa sinar dalam jarak yang sangat jauh.

Bagian-bagian dari serat optik
1. Core adalah kaca tipis yang merupakan bagian inti dari serat optik yang dimana pengiriman sinar dilakukan.
2. Cladding adalah materi yang mengelilingi inti yang berfungsi memantulkan sinar kembali kedalam inti (core)
3. Buffer Coating adalah plastik pelapis yang melindungi serat dari kerusakan.

Jenis – jenis serat optik

  • Single – mode fibers, mempunyai inti yang kecil (berdiameter 0.00035 inci atau 9 micron) berfungsi mengirimkan sinar laser inframerah (panjang gelombang 1300-1550 nanometer)
  • Multi – mode fibers, mempunyai inti yang lebih besar (berdiameter 0.0025 inci atau 62,5 micron) dan berfungsi mengirimkan sinar laser infra merah (panjang gelombang 850-1300 nanometer) (dikutip dari wikipedia.co.id)

 

Cara kerja serat optik
Sinar dalam serat optik berjalan melalui inti dengan secara memantul dari cladding, dan hal ini disebut total internal reflection, karena cladding sama sekali tidak menyerap sinar dari inti. Akan tetapi dikarenakan ketidakmurnian kaca cahaya akan terdegradasi, ketahanan sinyal tergantung pada kemurnian kaca dan panjang gelombang sinyal.
Apabila cahaya melintas dari suatu materi ke materi lainnya di mana indeks biasnya lebih kecil (katakanlah, dari air ke udara), cahaya dibelokkan menjauhi normal, seperti berkas J pada gambar 23-23 (pada lampiran). pada sudut datang tertentu, sudut bias akan 900 dan dalam hal ini berkas bias akan berhimpitan dengan permukaan (berkas K). sudut datang dimana hal ini terjadi disebut sudut kritis, θc = sin 900 =
Untuk sebuah sudut datang yang lebih kecil dari θc akan ada berkas bias walaupun sebagian cahaya juga akan di pantulkan pada perbatasan. Bagaimanapun, untuk sudut datang yang lebih besar dari θc, hukum snell akan memberitahu kita bahwa sin θ2 lebih besar dari 1,00. tetapi sinus sebuah sudut tidak akan pernah bisa leih dari 1,00. dalam hal ini tidak ada berkas bias sama sekali, dan seluruh cahaya terpantulkan, seperti untuk berkas L pada gambar 23-23 (pada lampiran). efek ini disebut pantulan internal sempurna.

  • Tetapi perhatikan bahwa pemantulan intenal sempurna hanya terjadi jika cahaya menimpa batas di mana medium sesudahnya memiliki indeks bias yang lebih kecil.
    Pantulan internal sempurna adalah prinsip di balik serat optik. Serat kaca dan plastik setipis beberapa mikrometer untuk diameternya sekarang bisa dibuat. Sekumpulan serat-serat kecil seperti itu disebut pipa cahaya atau kabel, dan cahaya dapat di transmisikan sepanjang kabel tersebut dengan hampir tidak ada kebocoran karena pantulan internal sempurna. Gambar 23-26 lampiran menunjukkan bagaimana cahaya yang melintasi serat tipis hanya sesaat menumbuk dinding sehingga terjadi pantulan internal sempurna. Bahkan jika pipa ringan dibengkokkan menjadi bentuk yang rumit, sudut kritis tetap tidak akan terlampaui, sehingga cahaya ditransmisikan dengan hampir tidak terganggu ke ujung lain. Kebocoran yang sangat kecil memang terjadi, terutama karena pantulan di ujung dan penyerapan di dalam serat.( Giancole,1998. Fisika. Jakarta: Erlangga)
    Aplikasi penting dari serat optik adalah pada telekomunikasi dan kedokteran. Serat ini digunakan untuk menstranmisikan percakapan telepon, sinyal video dan data komputer. Sinyal merupakan berkas cahaya yang dimodulasikan (berkas cahaya yang intensitasnya dapat diubah-ubah) dan ditransmisikan dengan kecepatan yang jauh lebih besar dan dengan kebocoran yang lebih kecil dari sinyal listrik di kawat tembaga. (Andrew s Tanenbaum,1996. Jaringan Komputer Edisi Bahasa Indonesia)

Keuntungan serat optik

  •  Murah: jika dibandingkan dengan kabel tembaga dalam panjang yang sama.
  • Lebih tipis: mempunyai diameter yang lebih kecil daripada kabel tembaga.
  • Tidak mudah terbakar karena tidak mengalirkan listrik.
    Lentur
  • Berupa sinyal digital

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Perbandingan Serat Optik dengan Jaringan Radio
Pembanding                           Jarigan Radio                                 Serat Optik
Frekuensi                        2,3 GHz – 3,3 GHz                                      30 KHz – 3 GHz
Ketahanan terhadap cuaca

Tahan terhadap cuaca
Tergantung terhadap cuaca
Penggunaan energi
Menggunakan energi yang minimalis
Menggunakan energi yang cukup besar
Sinyal yang dipantulkan
Lebih kuat
Kuat
Penggunaan lahan
Tidak membutuhkan lahan yang luas
Membutuhkan lahan yang cukup luas
Jangkauan wilayah
Aplikasi dengan wimax jangkauan hingga 50 Km
Dibantu dengan menara BTS jangkaunnya sekitar 2 Km
Tabel 1. Perbandingan Serat Optik dengan Jaringan Radio
Jaringan radio saat ini merupakan primadona dalam sistem telekomunikasi telepon seluler. Jaringan radio ini menggunakan aplikasi fisika Gelombang Elektromagnetik. Untuk menggunakan jaringan radio ini kita juga membutuhkan menara pemancar atau yang biasa disebut menara BTS. Tinggi menara BTS ini berkisar 42 meter dan jangkauannya sekitar 2 Km. Biasanya dalam satu radius yang tak sampai 50 meter berdiri dua, tiga bahkan lima menara BTS dari operator yang berbeda Jika dicermati, isu lingkungan memang sangat krusial karena berdampak pada masalah sosial juga. Jumlah menara BTS di Indonesia hingga saat ini sudah mencapai 45 ribu buah. Jumlah menara dari sebelas operator ini bisa terus membengkak jumlahnya. Dengan jumlah yang banyak ini maka pengeluaran khas negara kita menjadi lebih basar. Padahal kita mengeahui bahwa Indonesia saat ini sedang dalam masa labil, keuangan negara masih buruk. Menara BTS yang jumlahnya puluhan ribu ini semakin membuat penataan kota menjadi buruk., para operator membangun menara secara acak sesuai kebutuhan mereka masing-masing. Jika hal ini dibiarkan terus lama kelamaan Indonesia akan mempunyai hutan menara BTS selain hutan tropis. Dari segi estetika hal ini sangat menggagu penglihatan.
Selain itu pembangunan menara ini juga menimbulkan masalah sosial di masyarakat, terutama yang pemukimannya berdekatan dengan menara tersebut. Mulai dari ketidaknyamanan yang ditimbulkan dengan adanya menara BTS, seperti gangguan kesehatan, gangguan pada sistem perangkat elektronik akibat interfensi gelombang frekuensi radio, atau gangguan saat pembangunan menara berlangsung. Walaupun beberapa masalah tersebut masih diuji oleh peneliti, kita tetap harus memikirkan dampak terburuk dari pemancar gelombang radio tersebut.
Ini masih ditambah lagi soal pembebasan tanah yang sering menimbulkan masalah. Tak heran jika timbul reaksi keras dari masyarakat yang bisa mengarah pada sikap agresif. Jadi dengan munculnya peraturan sharing BTS yang harus diterapkan semua operator seluler Indonesia paling lambat tahun depan ini, pembangunan menara BTS bisa lebih tertib dan tidak mengganggu kenyamanan lingkungan.
Jaringan radio untuk saat ini masih layak digunakan apabila sistem pembangunan menara jaringan radio di tata ulang. Biasanya biaya yang dibutuhkan untuk membangun satu menara BTS berkisar antara Rp 700 juta sampai Rp 1 miliar. Padahal dalam satu tahun mereka bisa membangun puluhan BTS. Dengan adanya sharing menara BTS ini pengeluaran operator akan berkurang. Ini dimungkinkan karena setiap operator bisa menyewa menara operator lain sesuai kebutuhan mereka. Biaya sewa menara ini menurut Wahyu Sakti Trenggono, ketua umum Aspimtel (Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi), adalah Rp 15 juta sampai Rp 20 juta perbulan untuk satu menara. Biaya ini sudah termasuk biaya sewa, perawatan dan retribusi ke pemerintah. Lebih dari itu, sharing menara akan juga mendorong percepatan perluasan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Dengan menggabungkan sumber daya milik semua pelaku industri telekomunikasi, baik milik pemerintah dan swasta, jelas jaringan komunikasi negara kita semakin luas dan kuat. Efek berikutnya yang timbul jika infrastruktur telekomunikasi negara kita sudah bagus adalah turunnya tarif telekomunikasi. Karena para operator dapat menyewa jika mereka ingin memperluas jaringan.
Namun jika sistem ini memiliki banyak kendala, lebih baik kita terus mengembangkan penggunaan serat optik. Di samping banyak tersedianya bahan dasar untuk pembuat serat optik (pasir) pengembangan serat optik akan memperbaiki sistem berkomunikasi dalam telepon genggam. Karena selama ini dengan menggunakan jaringan radio, banyak sekali penyadapan, kesalahan operator, serta gangguan sinyal yang disebabkan oleh cuaca yang buruk. Reliabilitas dari serat optik dapat ditentukan dengan satuan BER (Bit Error Rate). Salah satu ujung serat optik diberi masukan data tertentu dan ujung yang lain mengolah data itu. Dengan intensitas laser yang rendah dan dengan panjang serat mencapai beberapa km, maka akan menghasilkan kesalahan. Jumlah kesalahan persatuan waktu tersebut dinamakan BER. Dengan diketahuinya BER maka, Jumlah kesalahan pada serat optik yang sama dengan panjang yang berbeda dapat diperkirakan besarnya. Dengan menggunakan serat optik penyadapan dapat ditekan. Serta kesalahan operator dalam menerjemahkan panggilan dapat berkurang karena adanya pemantulan yang sempurna yang dilakukan oleh serat optik. Selain itu serat optik tidak terpengaruh oleh ketidakstabilan daya, interferensi elektromagnetik, atau kegagalan daya listrik. Juga serat tidak terpengaruh oleh pelapukan kimia di udara, sehingga penggunaan serat optik dapat mengurangi biaya perawatan mesin.
Serat optik dapat mengurangi dampak dari pemanasan global, karena serat optik tidak menggunakan energi yang besar untuk menjangkau setiap daerah. Hal ini dikarenakan serat optik memiliki frekuensi yang lebih besar dibanding jaringan radio. Serta tidak memerlukan lahan yang cukup luas, sehingga proses pembabatan hutan dapat dikurangi. Selain itu dapat mengurangi intensitas konsumen yang stres karena setiap ingin menelepon atau bersms dengan koleganya tidak akan muncul lagi kata-kata ”jaringan sibuk”, ”panggilan ditolak”,”nomor tidak berlaku” dan sebagainya.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan masalah, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. serat optik lebih efesien dibandingkan dengan jaringan radio
2. penggunaan menara BTS yang berlebihan dapat menimbulkan kerugian pada lingkungan baik dari segi estetika hingga dari segi kesehatan.
3. serat optik memiliki lebar spektrum informasi yang tahan terhadap gangguan cuaca
4. serat optik bisa dikatakan tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan pemasangan, perawatan atau pembangunan menara BTS yang biasanya menelan dana lebih dari Rp. 700.000.000
5. serat optik dapat menjegah terjadinya penyadapan percakapan telepon oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
6. serat optik dapat mengurangi pengaruh Global Warming karena serat Optik tidak menggunakan energi yang besar dalam mengirimkan sinyal digitalnya.
4.2 Saran
Sebaiknya menara jaringan radio (menara BTS) tidak dibangun secara berlebihan. Karena selain menghamburkan energi juga memberikan dampak yang buruk dalam penataan kota serta kesehatan masyarakat, terutama masyarakat yang berada dekat menara BTS. Kita dapat beralih dari penggunaan jaringan radio atau jaringan gelombang radio ke serat optik yang memiliki banyak kelebihan. Selain pengeluaran biaya tidak terlalu besar, serat optik ini membuat sistem telekomunikasi di Indonesia lebih berkualitas. Kemusian memperbanyak penggunaan serat optik di fitur – fitur lain dalam telepon seluler, selain untuk sms dan telepon
Daftar Pustaka
Tanenbaum, Andrew s. 1996. Jaringan Komputer Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Prehallindo
Istiyono, Edi. 2006. Fisika. Klaten: Intan Pariwara
Giancole. 1998. Fisika. Jakarta: Erlangga
Kamajaya. 2007. Cerdas Belajar Fisika. Bandung: Grafindo
Hendrowijono, Moch s. 2008. Menara Akan Diganti Serat Optik. Majalah sinyal:27 oktober.
http://rhazio.files.wordpress.com/2008/02/jb-hcpt-05k.jpg
http://www.citi-talk.com/public/upload_user/b.png
www.bocah.org/gelombangradio
http://www.wikipedia.co.id(file:/localhost/G:/Serat%20optik%20-%20Wikipedia%20bahasa%20Indonesia,%20ensiklopedia%20bebas.mht
http://www.google.co.id

http://elektronika-elektronika.blogspot.com/2007/02/cara-kerja-telepon-seluler.html

 

Kategori:Gelombang
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.705 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: